Api Unggun Dalam Pramuka Dilarang, Ini Penjelasannya!

Api Unggun dalam kegiatan Pramuka sudah tidak diperbolehkan lagi. Saat kegiatan Persami sudah tidak boleh menyalakan api unggun. Api unggun sudah resmi dilarang!

Wait wait, tunggu dulu kakak, ada apa ini??


Yah itulah isu yang cukup memanaskan dunia medsos saat ini, terutama media sosial yang berbau Pramuka.

Lha, salah satu icon dari kegiatan persami dalam Pramuka kan api unggun kak?, terutama saat kita mengadakan kegiatan Persami tingkat Penggalang, terlebih lagi Tingkat Siaga. Pasti yang banyak mereka tunggu-tunggu adalah kegiatan api unggun.

Kalau api unggun ini dilarang, pasti akan ada konsekuensinya. Dimana para Penggalang SD dan Siaga akan berfikir kalau kegiatan Pramuka tidak menarik lagi. Bukan begitu kakak?
Baca ini: Pembina Perlu Inovasi atau Berhenti? Baca ini supaya tahu


Nah itulah kekhawatiran yang muncul dari banyak pembina Pramuka. Dan beberapa dari mereka ada yang berkomentar dalam akun Facebook resmi milik Kwarnas seperti ini:

"Api unggun identik Dalam kegiatan perkemahan pramuka, namun dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca dan lingkungan, ada tata cara giat api unggun dengan bukan menyalakan api tapi menggunakan kertas atau yg lain yg diserupakan seperti api unggun, hingga giat api unggun dapat terlaksana" (kak Misgiono)

"Api unggun harus tetap ada di GP..... beri penjelasan api.unggun gk.harus berkobar.kobar seperti gunung api... liat juklak api unggun GP sudah punya aturannya.. salam pramuka" (kak Met Riadi Kasidi)

Dan sebenarnya apa sih yang melatar belakangi munculnya isu pelarangan api unggun dalam kegiatan Kepramukaan itu?

Ya kalau menurut opini Halo Pramuka sendiri sih ada banyak faktor. Pertama bahwa kegiatan api unggun adalah kegiatan pemborosan, kedua, api unggun dianggap tidak ramah lingkungan dan itu bertentangan dengan Dasa Dharma nomor 2, ketiga api unggun dapat membahayakan, baik dari pelaku kegiatan maupun lingkungan.

Mungkin peristiwa Bulan Agustus 2017 silam, juga menjadi salah satu pemicu munculnya isu pelarangan/penghapusan api unggun dalam kegiatan pramuka.

Ada peristiwa apa sih kak pada Agustus 2017?
Seperti ditayangkan Patroli Siang Indosiar, Senin (14/8/2017), pembina Pramuka Gufron dan Purnomo yang terkena ledakan api unggun langsung berlari menyelamatkan diri. Peristiwa tersebut terjadi di Pasuruan, Jawa Timur pada Minggu, 13 Agustus 2017 malam.

Dua orang anggota Pramuka tingkat pembina terbakar akibat ledakan dari api unggun saat memperingati Hari Pramuka ke-56 tahun. Diduga api yang membakar dua pembina Pramuka tersebut berasal dari uap bensin api unggun yang dinyalakan oleh keduanya.

Ledakan diduga berasal dari uap bensin yang digunakan untuk menyalakan kayu pada api unggun dalam memperingati Hari Pramuka ke-56 tahun.

Purnomo mengalami luka bakar cukup serius dan Gufron yang mengalami luka ringan langsung dilarikan ke Puskesmas Nguling untuk mendapatkan perawatan.
(Sumber :https://news.liputan6.com)

Isu yang banyak membuat jantung para pembina Pramuka berdebar debar (termasuk saya), membuat Ka Kwarnas angkat bicara.

Dalam penjelasan yang disampaikan Kak Adhyaksa Dault tersebut, dapat melegakan banyak Pembina Pramuka yang sempat dikhawatirkan dengan isu pelarangan api unggun.

Dan berikut ini penjelasan lengkap Ka Kwarnas (Adhyaksa Dault), dalam menanggapi isu api unggun.

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Salam Pramuka. Saya diberitahu, kemudian membaca di media sosial tentang adanya kekhawatiran dari beberapa Kakak-Kakak bahwa api unggun akan dihilangkan dari kegiatan kita di Gerakan Pramuka, dan itu disampaikan di media sosial. Saya sampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya atas masukan dan perhatian Kakak-Kakak terhadap hal ini.

Untuk itu, perlu saya sampaikan beberapa hal. Pertama, kegiatan api unggun memang sebaiknya kita kurangi, bukan berarti dihilangkan. Tujuannya, menjaga kelestarian lingkungan sebagaimana masukan dari beberapa senior-senior kita di Gerakan Pramuka. Ada ribuan perkemahan dilakukan Pramuka di seluruh Indonesia setiap minggunya (oleh Gudep, dll). Tentu kita berharap tidak setiap perkemahan membuat api unggun. Ini perlu kita atur dengan baik.

Kedua, diperlukan alternatif lain selain api unggun, agar tujuan api unggun dan kegiatan tetap menggembirakan Pramuka. Di sini diperlukan kreatifitas.

Ketiga, intinya kegiatan api unggun boleh dilaksanakan asalkan sesuai waktu dan tempat. Hal yang dikhawatirkan adalah sebagian kecil masyarakat umum yang ikut membuat api unggun tapi tidak mengerti makna api unggun itu sendiri, akibatnya beberapa kebakaran hutan di gunung diakibatkan oleh api unggun yang dinyalakan dan tidak terkontrol. Seperti istilah Jambore yang sekarang sembarang dipakai sebagian kecil masyarakat umum tanpa mengerti arti dan maknanya.

Demikian penjelasan singkat dari saya. Nomor HP saya selalu terbuka dihubungi untuk mendiskusikan berbagai hal demi kemajuan Gerakan Pramuka. Terima kasih Kakak-Kakak. Salam Pramuka.

Kalibata, Jakarta Selatan, 10 Desember 2017.
Salam Hormat, Adhyaksa Dault

Dari penjelasan diatas, dapat Halo Pramuka simpulkan seperti ini
  • Kegiatan Api Unggun sebaiknya dikurangi. Bukan dihilangkan sama sekali. 
  • Pembina Pramuka harus lebih kreatif agar walaupun tidak melaksanakan api unggun, kegiatan tetap menarik 
  • Saat harus malakukan kegiatan api unggun, lakukanlah dengan sebijaksana mungkin. 
Demikian kakak, informasi yang Halo Pramuka begikan kali ini, dan silahkan berkomentar dibawah ya jika kakak memiliki pendapat/opini terkait dengan api unggun

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon